Kelas Dunia Sophie

Dunia Sophie

Soal baca buku, saya mendesain Kelas Dunia Sophie di rumah, setelah Kelas Muhammad-nya Martin Lings istirahat lama. Kelas baca buat seisi rumah, seluruh anggota keluarga. Saya membaca dari kalimat ke kalimat, lalu menjelaskan seperlunya makna yang tersembunyi. Dan kelas berlangsung hanya setengah jam setelah magriban, artinya setiap hari hanya membaca dua atau tiga halaman.

Terus kenapa Dunia Sophie? Sebagai pembaca, saya tak meminati buku-buku yang sebatas kapasitas. Saya harus membaca buku yang melampaui. Kalau tidak, ya, jangan disebut kelas, karena tidak ada proses belajar. Dan, novel Jostein Gaarder itu di atas kapasitas saya. Ia menyajikan sejarah filsafat dalam bentuk naratif, yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan. Jostein menggiring saya untuk bisa meminati filsafat, meski masih dasar banget (ya, bagaimana tidak dasar lha wong saya bukan jebolan STF). 

Rakai pun, karena kakaknya, Ahimsa, sudah di pondok, biasa sekilas melihat gambaran filsafat. Tapi, apa tak memaksa? Apa anak sanggup? 

Pertanyaan balik saya, siapa bilang anak tidak suka belajar? Siapa bilang ia tak haus pengetahuan? Siapa bilang tidak sanggup? Tidak suka baca buku? Bahwa memang banyak anak di luar sana yang malas, yang hanya gemar menenteng gawai. Namun sebetulnya karena mereka tidak dibiasakan menikmati buku. Anak-anak dibiarkan kecanduan telepon genggam. 

Ketika saya bikin taman baca di teras rumah, contohnya, anak-anak tetangga itu malah tampil sebagai pribadi yang demen buku. Mereka sosok pembelajar. Senang berkreasi, kebak akal, dan tak suka yang monoton. Saban sore, anak-anak itu, seakan bikin janjian untuk belajar kelompok. Belajar bareng di gubuk mungil kami. Bermain peran laiknya di sekolah. Ada yang mengajar, ada yang diajar, ada yang dibacakan, dan ada yang mendengarkan. Cekakak-cekikik memang tak terhindarkan, tanda mereka bahagia. Saling rebutan, tapi sebentar saling maafkan. Tiada dendam. 

Saya melihat, anak-anak itu mengalir saja. Mereka suka bersama-sama. Sesekali terdengar tangis, tetapi buru-buru berbaikan. Ah, memang anak-anak. Pendendam, pemaaf, penyendiri, tapi suka bolo-boloan.

Kembali pada gugatan “apa anak sanggup memahami Dunia Sophie?” 

Sebenarnya, gugatan itu lebih tepat ditujukan kepada diri kita, para orangtua. Sebagai orangtua, yang mendaku telah dewasa, lebih berpengalaman, barangkali salah menilai anak. Anak yang fitrahnya tumbuh mekar, justru karena kita, malah pudar tak berkembang. Kita suntikkan ambisi dan cita-cita gengsi kita, yang malah menghambat kreativitas anak. 

Karena mimpi kita yang gagal, lantas merekayasa untuk menjadi pola pikir dan cita-cita anak. Anak yang dahaga pengetahuan, kerap kita hambat atas nama “masa depan”. Padahal, si anak cuma kepingin baca cerita pendek, misalnya, tapi kita larang lantaran bukan pelajaran sekolah. Sebetulnya pengin baca novel tebal, pengin melukis gambar peta, mengguratkan spidol di dinding tembok, tetapi buru-buru dibatasi, karena tidak akan masuk penilaian ujian sekolah.

Maka, barangkali bukan anak yang tidak suka belajar, tidak suka baca buku. Melainkan kitalah yang tak menginginkan anak bertumbuhkembang secara wajar. Anak teramat lapar gagasan yang melampaui isi benaknya sekarang, tetapi di rumah tidak difasilitasi buku yang mengundang selera makan. Dia itu sangat kreatif, penuh inovasi, tetapi kita batasi ruang geraknya. 

Acap terjadi, kita lebih bangga punya anak yang penurut bak bebek. Pintar berbaris rapi sesuai perintah, penurut tak suka membantah. Atau sejenis burung beo yang selalu senada dengan cita-cita kita. Kita kerap kesal berhadapan dengan anak yang justru suka bertanya. 

Padahal pendidikan yang sesungguhnya adalah yang berbasis keluarga. Bahwa anak akan menghirup kebiasaan orangtua. Bahwa anak akan menyerap energi kenyataan orangtua. Bahwa anak akan terasuki perasaan dan pikiran orangtua. Bahwa hanya sedikit sekali karakter yang dia dapat di bangku sekolah. 

Maka, sedianya kita tegas menggarap diri sendiri terlebih dahulu. Kita tidak lagi menyepelekan kebiasaan kurang baik, kebiasaan tidak memperhatikan anak. Kita tinggalkan kebiasaan tidak memedulikan apa yang diusung anak dari luar rumah. 

Nah, saya ada sedikit pengalaman. Anak saya yang bungsu, Rakai, itu tidak sekolah. Sama sekali tak pernah mencium bau sekolah, dari PAUD, TK, maupun SD. Kini ia berusia 11 tahun. 

Dan, saya tak punya cara khusus. Bahkan target harus bisa baca pun tidak. Saya juga telah menepis pikiran bahwa anak yang telah berusia tujuh tahun mesti bisa membaca. Kudu bisa berhitung. Menulis. Tidak! 

Namun, itulah Rakai. Semenjak berusia 7 tahun, saya mulai pembelajaran terjadwal. Saya ajak dia mengakrabi angka-angka. Belajar penjumlahan dan pengurangan. Sesekali saya ajak ia bermain-main dengan soal cerita. Saya bacakan soal, dan ia menjawab tanpa harus mencorat-coret kertas. 

Saban pagi, saya berusaha membacakan barang satu lembar halaman buku cerita, Rumah Kecil di Rimba Besar dan Charlotte’s Web. Sebelumnya, saya libatkan dalam kelas baca Muhammad karya Martin Lngs, seusai berjamaah magrib. Kami baca bergiliran: saya, Rahma, dan Ahimsa. Dan Rakai sebatas menyimak. 

Syahdan, hanya dalam rentang empat bulan, Rakai memahami penjumlahan dan pengurangan tanpa mengalami kesulitan sedikit pun. Ia mulai menyukai untuk mengeja apa saja yang ia temui. Ia juga menyukai untuk menulis cerita bergambar. 

Sekali lagi, tiada metode khusus. Hanya membacakan. Ya, saya sekadar membacakan buku cerita. Sesekali menunjukkan kata atau kalimat yang saya baca kepadanya. Dan, kini ia keranjingan membaca dan telah menamatkan novel-novel tebal seperti Black Beauty-nya Anna Sewell, 60000 Mil di Bawah Laut karya Jules Verne, seri Gajah Mada karya Langit Kresna, atau buku Max Havelaar

Dari situ saya yakin, tidaklah sulit mengalihkan anak dari kecanduan gawai. Kelas Dunia Sophie alternatif kami saat ini. Kami baru menyambangi lembar 62 dari total 785, bab Mitos. Rakai menarasikan cukup baik tentang mitos Thor dan palunya.

Sementara kakaknya, saat di rumah, ketika 14 hari liburan pondok di bulan Desember 2021, hanya mengasyiki empat seri Tere Liye: Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang. Terasa jomplang selera baca mereka. Namun tak apa, toh membaca tidak ada istilah telat, bukan. Tak ada kata terlambat. Karena memang bukan perlombaan. Mau lomba sama siapa coba? Lha wong konon setiap anak itu unik! 

Ungaran, 27/12/2021

Post a Comment

12 Comments

  1. Saya belum baca Dunia Sophie. Pengen banget, tapi belum sempat. Baca judul blogpost ini saya anggap pengingat dulu ya..

    pertama kali melihat sampul Dunia Sophie, di rumah teman, awal tahun 2000an. Sampul pertama versi terjemahan ini, seingat saya ketika kantor penerbit Mizan masih di Yodkali (entahlah saya lupa, yg pasti belum di alamat Cinambo/Ujungberung)

    Jostein Gaarder yg sudah saya baca baru Bibbi Bokken (saya beli ketika masih fresh from the oven), dari kepala kantor distribusi Mizan Surabaya sekitar 2005 dgn harga 50% karena beli jatah gratis beliau

    Sekarang saya masih ngantre Dunia Sophie di iPusnas, panjang banget antreannya.

    Ini setor komentar wajib dulu ya Mas Kafha 😁 soalnya belum sempat baca blogpost selengkapnya. Kalau sudah senggang, saya tengok lagi untuk baca lebih detail. Betapa hidup manusia moderen sering terburu2..

    Nuwun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kutunggu komentar sunahnya...hehehe.... Tapi, tengkiuh lho, telah jadi pengomen pertama.

      Delete
  2. Pemikiran keren dan unik menurutku. Aku setuju soal belajar tulis, berhitung gak ada batasan umur. Semua ilmu tuh bagus, jangan dibatasin. Anak memang harus dibiarkan berekspresi dengan pengawasan juga dari orang tuanya. Keren banget anaknya betah membaca, aku salut. Semangat terus ya

    ReplyDelete
  3. Toss Rakai, kita samaan nih. Disini juga anak-anak ibu tidak sekolah. Kami lebih suka cari jawaban dari apa yang bikin penasaran. Setiap hari berbeda-beda.

    Kalau dekat, mau banget loh kita baca buku bareng. Terus saling cerita deh apa isi bukunya. Pasti seru.

    ReplyDelete
  4. Rutinan yg berat, karena aku nggak menyukai filsafat...

    ReplyDelete
  5. Sebenarnya anak-anak itu suka baca, belajar dan ilmu pengetahuan namun disana sini banyak yang suka pegang gadget jadi ikutan ya . Tertarik nih dengan Dunia Shopie, kapan 2 pingin banget baca..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak, itulah tantangan orangtua: bagaimana mengalihkan dominasi gadget

      Delete
  6. Salut buat Mas Kafha dan Rakai yang bekerjasama dengan kompak melaksanakan pembelajaran di rumah, Dunia Sophie ini aja rasanya terlalu berat untukku huhu

    ReplyDelete
  7. Suka tertarik deh kalau bahas filsafat, jadi penasaran juga sama Dunia Shopie saya tim spoiler juga nih hahaha

    ReplyDelete