Menjaga Martabat

 Harga diri atau martabat kita lestari dengan iman dan ihsan
Puasa #8

Muhammad Zuhri, dalam Lantai-Lantai Kota, mengungkap bahwa ketinggian martabat manusia terletak pada kebebasan mendayagunakan potensi diri dan fasilitas alam. Namun, bila kebebasan itu diacu oleh hawa nafsu, ia pun lenyap. Seperti, kita bebas saja untuk bunuh diri atau mencelakai orang lain, tapi kemudian kebebasan kita akan terbang ke balik kuburan atau lembaga pemasyarakatan.

Oleh karenanya, kebebasan mesti dijaga dan dipelihara supaya lestari menemani kita. Dan, cara terbaik mempertahankannya adalah dengan beriman kepada Allah dan berperilaku baik kepada sesama.

Sungguh telah kami jadikan manusia dalam sebaik-baiknya martabat. Kemudian kami mengembalikan ia kepada serendah-rendah tingkatan. Kecuali yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan….” (At-Tin: 4-6).

Meraih iman bisa dipahami telah berkesadaran akan Allah. Sadar akan kemahahadiran-Nya, bahwa Dia mutlak tuan dan kita murni hamba. Jadi, pertama-tama kita teguhkan identitas sebagai hamba Allah. Nabi Muhammad Saw. menuntun akan kesadaran menghamba dengan sarana shalat. Dalam shalat (wajib) terulang 17 kali kalimat “Hanya Engkau-lah yang kami sembah”. Berulang dan terus terulang, sehingga tumbuh kesadaran mengabdi. 

Setelah jelas pengabdian hanya kepada Allah, tertuntutlah amanat untuk membuktikan kepada yang lain bahwa Allah ada. Yakni melayani pihak lain yang bisa dijangkau. Pak Muh, sapaan akrab Muhammad Zuhri, berujar: “Jangan sampai kita mendengar ada orang sakit akhirnya mati sebelum terobati, ada orang lapar akhirnya harus mencuri, ada orang teraniaya mati sebelum tertolong. 

“Sebagai hamba Allah, kita berdosa. Sebab setiap yang sakit, lapar, atau teraniaya pasti berharap, pasti berdoa. Jika kita tidak merealisasikannya, orang tersebut akan berprasangka, ‘Tuhan itu ada apa tidak, saya merintih, saya meminta, tapi Dia tidak mengutus siapa pun dari hamba-hamba-Nya’.”

Nah, itulah. Ternyata tidak asal bilang telah beriman. Tapi juga harus melayani hamba-hamba-Nya. Namun demikian, saat melayani kita acap kewalahan. Kita sendiri ternyata ringkih. Pengetahuan kita terbatas. Maka, lanjutan dari “Hanya Engkau-lah yang kami sembah” adalah “Hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”.

Kita mohon tambahan ilmu, tenaga, dan akal dari sisi-Nya agar pengabdian itu pun optimal. Dan teknis untuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan daya ekstra dari Tuhan adalah puasa. Betapa kita kerap dengar cerita orang-orang tua dulu, untuk memiliki daya linuwih, apa pun itu, justru bukan dengan memperbanyak makan, atau banyak tidur, melainkan sebaliknya. Dan itu ada pada puasa. 

Puasa menciptakan situasi intim dengan Tuhan, sebab kita berlaku seperti perilaku Tuhan. Sehingga memungkinkan kita diberi limpahan ekstra dari-Nya. Ketika dihadapkan pada situasi yang mustahil teraih, orang-orang dulu melakukan puasa untuk mengurai persoalan. Meski begitu, bukan berarti dan memang tidak ditekankan untuk berorientasi kepentingan materi atau duniawi. Tetap, kita menjalani puasa untuk Dia yang Mahaagung, bukan demi limpahan daya linuwih, limpahan sarana ekonomi, dan sebagainya. Kalau toh akhirnya mendapat limpahan itu adalah bonus semata, bukan tujuan.   

Walau memang, kalau ditelisik perintah puasa itu benar-benar wujud cinta kasih Allah kepada hamba-Nya. Ibarat mesin, akan awet jika ada waktu istirahat, ada waktu untuk tidak beroperasi. Pun onderdil-onderdil dalam diri kita, tatkala menjalani puasa, suka tak suka harus beristirahat, dan secara medis malah bagus. 

Secara fikih, kita juga merasakan perintah puasa itu sebetulnya tidak berat. Di sana sini tetap ada kompensasi bagi yang benar-benar kesulitan menjalani puasa. Seturut ungkapan almarhum Cak Nur, puasa tidak dimaksudkan bahwa semakin menderita dalam melaksanakan semakin berpahala. Buktinya, misalnya berbuka puasa, justru akan selaras dengan sunah Rasul Saw. jika kita menyegerakan berbuka, bukan malah melambat-lambatkan. Itu pun disunahkan dengan makan atau minum yang mengandung zat gula, agar kondisi fisik segera pulih.  

Sebaliknya, saat sahur, kita malah diperintah untuk mengakhirkan bersahur. Hal itu kira-kira supaya tidak memberatkan fisik kita, karena ada bekal asupan gizi yang dikonsumsi. Dan, Nabi Saw. berpesan agar kita tidak sampai tidak sahur, “Bersahurlah karena dalam sahur terdapat keberkahan.” 

Kemudian, orang yang sakit, wanita yang menyusui, atau habis melahirkan, atau sedang mengandung, orang yang sudah tua, atau orang yang sedang dalam perjalanan, oleh syariat mendapat keringanan tidak menjalankan puasa. Sebagai gantinya, dianjurkan menjalankan puasa di hari yang lain di luar ramadhan. Khusus yang lanjut usia atau sakit menahun, menggantinya dengan membayar fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin.

Meski, mereka yang melakukan perjalanan mendapat keringanan, Al-Quran mengimbau untuk tetap berpuasa. Al-Quran mengingatkan bahwa yag demikian akan lebih baik, akan berdampak positif buat si shoimin.  

Dampak tersebut, bisa lahiriah, seperti kesehatan jasmani, juga—ini yang terpenting—sebuah penyembuhan rohaniah, spiritual treatment. Bahwa dengan berpuasa, kita akan dapat merasakan kehadiran Allah, setiap saat, di mana saja dan kapan saja. Dengan sendirinya, kita akan tampil penuh percaya diri, optimis menghadapi hidup, dan tabah, dan sabar dengan pelbagai ujian hidup. 

Walhasil, kembali pada ungkapan bahwa cara terbaik mempertahankan martabat manusia adalah dengan beriman kepada Allah dan berperilaku baik kepada sesama, baik shalat maupun puasa tak sekadar berdimensi vertikal, tapi juga berdampak sosial. Kedua ibadah mahda itu tak semata membangun keyakinan akan kehadiran Tuhan, tapi, seperti dalam anjuran membayar fidyah kepada fakir miskin, atau ucapan salam dalam penutup shalat, jelas mensyaratkan keterlibatan umat Islam terhadap persoalan kesenjangan.

Kiranya begitu cara menjaga martabat, Wa Allah A’lam.

Ungaran, 10/04/2022

Baca juga: Pintu Terbuka

Post a Comment

0 Comments