Rasa Takjub

Diskusi di Joglo Agung Resto

Seperti yang sudah-sudah, Joglo Agung Resto selalu tampil menawan, tampil ramah. Letaknya yang di pinggir jalan raya Bandungan serasa mustahil bikin pengunjung kesulitan bersinggah. Berulang kali saya berkesempatan ke sini, tak sekadar untuk memanjakan perut, tetapi berolah pikir. Termasuk saat itu, Kamis siang, 23 Juni 2022.

Adalah para praktisi metode Charlotte Mason Indonesia (CMid) Semarang, selain karena mengantar anak-anak untuk temu ria, playdate, para orangtua menyelenggarakan kajian pemikiran Charlotte Mason. Buat saya, acara kajian saat itu sangatlah berarti. Sudah terlampau lama saya mangkir dari kegiatan diskusi mereka, terutama yang terselenggara via zoom.

Bagi saya, CMid Semarang adalah oase. Saya selalu terkesima mendengar celotehan-celotehan mereka. Menyegarkan. Sungguh!

Nah, siang itu kami mendiskusikan konflik dan pergulatan antara sains dengan agama. Sebetulnya tema utama kajian bukan itu, melainkan kehadiran sains yang sedemikian dominan di tengah pergulatan hidup. Tulis Charlotte, “Sains berkata pada Sastra, ‘Aku tidak butuh kamu!’”

Dan, sepertinya keangkuhan sains itu berlanjut hingga kini. Sains dipresentasikan sebagai metode ilmiah dan pemilik sah kebenaran. Di luar sains, kebenaran diragukan. Hal itu berbeda (kalau saya tidak salah) dengan masa-masa sebelum Descartes memproklamirkan Cogito ergo sum, bahwa sumber dan tolok ukur kebenaran tidak sekadar yang berbasis riset. Bahwa olah rasa, dan pengagungan terhadap kebenaran wahyu pun masih mendapat tempat yang terhormat. 

Namun, semenjak Rene Descartes, sains mengalihkan sumber dan tolok ukur segala kebenaran, termasuk kebenaran agama. Maka, tak pelak lagi Charlotte Mason mengembalikan semangat lama bahwa ruh belajar adalah kekaguman atau rasa takjub. Tanpa itu, niscaya kita jatuh pada pengejaran material semata. “Tanpa rasa takjub, nilai tertinggi seorang ilmuwan tidak lagi spiritual, tetapi utilitarian.” jelas Charlotte. 

Dari situlah, saya tertarik ungkapan Ellen Kristi, “Sebagai cara berpikir, sains telah menyusup ke wilayah agama.”

Burukkah?

Sains jelas tidak buruk, selagi tak memandang rendah agama, juga kepada seni dan sastra. Bahwa kebenaran berdasarkan pembuktian eksperimental sebagaimana sains, sedianya beriring dengan kebenaran berdasarkan otoritas wahyu TUHAN, atau respon jiwa terhadap situasi kehidupan. Sehingga perlu kerendahan hati. Ada suatu perkara yang tidak lantas dapat dicampur aduk dalam satu kuali. Tetap ada wilayah-wilayah yang otonom.

Selain kerendahan hati, Ellen juga menandaskan sekali lagi pentingnya menjaga rasa takjub. Kesadaran bahwa kita ini kecil, pengetahuan terbatas, tapi di luar sana termasuk dalam diri sendiri berlimpah rahasia yang menuntun kita untuk menguliknya. 

“Kuncinya, rasa takjub!” tegas Ellen Kristi.

Dan diskusi pun makin seru tatkala satu per satu yang hadir mengungkapkan refleksinya. Betapa selama ini, rasa takjub itu bukannya bertahan apalagi bertambah besar, melainkan berkurang, dan terus berkurang hingga sama sekali tak tebersit. Kita, karena merasa sudah tahu dan biasa, akan dengan gampang menghardik anak yang terpesona pada sesuatu. "Kita begitu mudah menggak anak untuk mengungkap rasa takjub." tutur Gloria.

Apalagi, seperti seloroh Ellen, “Kultur masyarakat modern itu kan kultur sibuk. Tiada sisa ruang dan waktu untuk menikmati klangenan. Tiada sempat untuk mengekspresikan rasa kagum, rasa takjub. Sehingga serasa jadi manusia aneh saja jika tidak turut arus sibuk.”

Begitulah. Blaik kan! Jadi, beruntunglah yang saat itu berasyik masyuk di serambi Likoopi Joglo Agung Resto & Gallery. 

Ungaran, 24 Juni 2022 

Baca juga: Berkhidmat di Lereng Merbabu

Post a Comment

12 Comments

  1. Wahh iya selain Renjana kmrn aku jg catat kata "klangenan" wakakakakak... Tp ga berhasil menemukan kalimat buat masukin ke narasiku.... Uda lama bgtvrasanya ga baca narasi mas Kafha .. welcome back... Sering2 ya mas...

    ReplyDelete
  2. Ini kajian buat orang tua ya? Buat saya berat banget bahasa nya...hehehe

    ReplyDelete
  3. Agak sulit memahami makna tulisan ini hahaha :D Mungkin kalau dari sisis kehidupan manusia yang sibuk, apalagi seperti orang2 Jepang tuh.... Kesenangan sudah kurang dapat dirasakan. Antara ilmu sains dan agama memang ada yang melekat, ada juga yang tidak. Orang2 mesti berusaha relaksasi kayaknya, terutama bersama keluarga, jangan nyari cuan melulu walau itu perlu.

    ReplyDelete
  4. dicatat, bahwa kerendahana hati dan rasa takjub harus dipelihara agar semakin mampu merasakan bahwa diri ini butiran debu di tengah alam semesta, di lautan ilmu Sang Maha Kuasa. semoga bisa selalu meresapi ini, dan membuat diri selalu semangat mempelajari ilmu. thanks mas ardi

    ReplyDelete
  5. dengan rasa takjud akan memperbesar rasa syukur pada Tuhan, apalagi sambil pergi bersama keluarga menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan

    ReplyDelete
  6. wah padahal kalo sains dipadukan sama sastra itu bakal indah banget loh, sepertinya ini kembali ke sudut pandang masing-masing untuk menyikapi sains dan sastra yang syarat dengan keindahan

    ReplyDelete
  7. rasa takjub apakah sama dengan gumunan dalam bahasa Jawa, Mbak... katanya kita tak boleh gumunan ya. Namun buat aku tak apa bila rasa takjub itu kita implementasikan dengan rasa syukur pada Tuhan.

    ReplyDelete
  8. Wah sebuah kajian menarik. Aku dan teman-teman kuliah sering nih bahas sains, tapi kita pikirkan juga dari hal spiritual, seni, dan budaya. Memang harus ada rasa takjub untuk bisa mengkaji ilmu ya. Kerendahan hati juga perlu

    ReplyDelete
  9. Wah penasaran sama metode Charlotte Mason. Seru kalau bahasan seperti ini secara offline, akhirnya. Jadi ikut takjub membaca tulisannya

    ReplyDelete
  10. Mbak Ellen Kristi selalu bikin takjub dengan pemikirannya ya jadi ingat bedah bukunya Charlotte Manson dulu bareng IIDN kalau nggak salah..memang sains tak usah dipertentangkan dengan agama, atau sastra ya..ketiganya bisa sejalan dalam kehidupan sehari-hari kita

    ReplyDelete
  11. Jangan lupa untuk merasa takjub agar harimu lebih bergairah dan bersemangat ya, nikmati keindahan dan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari agar tidak kehilangan tawa

    ReplyDelete