Nature Walk di Masa Pandemi

Ke Semirang

TIDAK seperti biasa di acara CMid Semarang, tempo itu, Kamis 16 September 2021, bungsu saya, Rakai, dari matanya tidak menyiratkan keinginan menggebu untuk berlama-lama di Semirang. Entah apa alasan sebenarnya, saya tidak tahu. Hanya yang terucap darinya, pada saat turut menyisir jalan setapak menuju rumah pohon dan sungai Semirang, mengeluh perutnya sakit. Tidak lebih.

Sontak saya kesal, mengingat sebelum berangkat, saat masih di rumah, ia tidak mau sarapan nasi. Hanya minum segelas susu yang telah disiapkan Rahma.

Sabar, sabar. Ya, saya menarik napas dalam-dalam sejenak, berusaha menenangkan diri. Seketika pikiran saya melejit kepada Kitab al-Hikam, kitab kebijaksanaan dari Ibnu ‘Athaillah. Bahwa jangan memprotes, jangan menuntut hanya karena harapan kita tak selaras dengan rencana. Ada Tuhan di balik ini semua.

“Gimana, Dik, masih terasa sakit?”

Rakai mengangguk.

“Ya udah, duduk dulu. Ini diminum!” saya sodorkan botol minum kepadanya. Saya temani si ragil duduk di atas batu di pinggir setapak. Sebagian besar teman-teman CMid yang lain sudah tiba di rumah pohon. Tinggal beberapa saja yang masih tampak tertatih di belakang.

“Ayo, Yah!” akhirnya, sepertinya ia tidak tahan berlama-lama duduk, selagi teman-teman kecil dan sebayanya telah mencapai sungai.

Begitulah. Setiba di sana, saya langsung naik saung yang berdiri kukuh di pinggir sungai. Sebuah ruang panggung ukuran 5x6 meter, bisa untuk mengobrol ramai-ramai, juga untuk tidur kalau mau. Saya memilih duduk di sudut, yang persis di atas pinggir sungai, sambil memandang sebagian mak-mak yang ternyata lebih gempar ketimbang anak-anak, bercanda ria menikmati jernih air sungai.

Ke sungai Semirang

Wajar memang, teman-teman CMid ini tinggal di tengah perkotaan Semarang, hanya saya, Gloria, dan Indri yang tidak. Saya dan Gloria di Ungaran, sedang Indri di Kudus. Sehingga, alunan gemericik air sungai itu, ditambah pohon-pohon besar di kanan kiri, juga batu-batu, sungguh melenakan mereka dalam kegembiraan yang tak bertara. Apalagi memang, alam terbuka macam hutan Semirang ini menyediakan kebahagiaan yang hampir mustahil dipenuhi di tengah terik Kota Semarang.

Masih di atas ruang saung, bersama para bapak, saya juga melihat keasyikan sebagian para mak yang memilih bersantai di bawah pohon, tidak ikut larut berdingin-dingin di sungai. Ada Ellen, ada Putri, ada Zhenita, ada Tiur, dan Anna. Ellen Kristi, publik pasti tahu, adalah pengusung ide pendidikan Charlotte Mason ke Indonesia. Kemudian Tiur, kini terdaulat sebagai koordinator CMid Semarang. Sementara Anna berperan sebagai pengumpul uang iuran anggota.

Ngadem di Semirang

Tampak pula, di kejauhan anak-anak, termasuk Rakai, serius mencatat atau mungkin menggambar sesuatu yang menarik hati mereka. Saya belum tahu apa yang mereka tulis atau gambar, bahkan hingga saya menulis ini, Rakai juga belum memperlihatkan hasil amatannya.

Pengamatan

Singkatnya, saya menikmati irama nada yang tercipta dari terjunan air sungai, menikmati hutan alam pinus dan pala, dan yang jelas menikmati waktu bersama-sama CMid Semarang setelah sekian puluh purnama tidak bertatap langsung. Ya, setahun lebih, semenjak Covid-19 mewabah, acara mingguan, acara diskusi pindah ke ruang zoom, dan jelajah alam pun diliburkan.

Kamis itu, kami mencoba menjalankan kembali nature walk, tradisi mengkhidmati tempat-tempat terbuka yang indah. Tempat-tempat yang menawarkan kebahagiaan sederhana, menawarkan pesona yang menyentuh jiwa. Atau mengutip hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah, bahwa melihat semesta, sama artinya melihat-Nya di sana. Sekira tidak, berarti hati ini telah disilaukan oleh ambisi nafsu, keinginan yang penuh serakah.

Lebih jauh, sang Syekh dengan kitab al-Hikam yang sedemikian populer di dunia Islam selama berabad-abad sampai hari ini, dan kitab ini pula, menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren salaf di negeri ini, menuturkan bahwa di dunia ini Allah memerintah kita untuk merenungkan ciptaan-Nya, niscaya kelak di kampung akhirat, Dia akan menyingkapkan kesempurnaan Dzat-Nya kepada kita. Artinya, sedianya kita senantiasa mengamati dan merenungkan ciptaan Tuhan, syukur kemudian kita bisa merasakan kehadiran-Nya tampak di alam yang indah ini.

“Yah, aku pengin makan.” tiba-tiba Rakai membuyarkan lamunan saya saat ini yang maujud dalam jahitan huruf demi huruf di atas layar laptop untuk mengisi blog, persis Kamis itu tatkala lagi asyik mengamati tingkah para bocah dan mak beriang di sungai, ragil saya merajuk ingin sarapan, yang memang belum ada sesuap pun masuk ke mulutnya, selain air putih dan susu sejak mulai berangkat dari rumah.

“Makan mie mau?” tanya saya pada Kamis itu, yang senada dengan saat ini.

“Nggak apa.” jawabnya pelan, dan ia pun bergegas ke dapur, sementara Kamis itu kami beriring ke warung kecil, yang tampak seperti warung darurat.

Ya, baiklah, sampai di sini dulu coretan soal penghayatan alam hari ini. Yang pasti, saya ingin turut menandaskan bahwa alam terbuka, di mana hutan yang kerap kami kunjungi, menjanjikan kenyamanan hati. Walau Kamis itu, Rakai rada terganggu, dan kemungkinan besar oleh ketidaknyamanan tubuhnya yang belum sarapan. Atau bisa pula, karena mesti beradaptasi dengan rekan sepermainan yang telah sekian puluh bulan tidak pernah bersemuka.

Hanya sayang memang, belakangan ini lahan hutan di tanah Ungaran, mulai dialih-kelolakan kepada pihak pengelola wisata. Hutan Penggaron contohnya, semula kami menikmati sebagai lahan yang menyediakan aneka varietas tumbuhan, kami bebas mengamati, bebas belajar. Penggaron buat kami sempat menjadi ajang belajar tentang keragaman hayati di hutan tropis, dan soal bahaya perubahan iklim yang sedemikian nyata. Namun, kini entah bagaimana nasibnya, semenjak ditutup untuk umum. Kami tertampik, dan kemungkinan kelak kami baru bisa ke sana setelah menjadi taman nasional dan otomatis berbayar mahal.

Beruntung masih ada Semirang, yang tata kelola dan pengelolanya masih ramah, seramah alam raya di dalamnya kepada setiap pengunjung. Udara yang segar, tetumbuhan pala dan pinus, dan tumbuhan lain yang besar dan berusia puluhan tahun, bebatuan yang berserak, tebing, dan alunan suara gemericik air yang setia mengiring langkah kaki.

“Ayaaah….!” seru Rakai di dapur.

“Ya, ya, Nak, sebentar.”

Ungaran, 23/10/2021; 07.53

Baca juga: nature ke sungai

Post a Comment

0 Comments