Wajah Tuhan

Di rumah

“Ada dua Tuhan: Pertama, yang menciptakan kita semua. Dan yang kedua, yang diciptakan oleh orang sepertimu.” – Bagian dari dialog film PK.

Masih sebegitu jelas menari-nari di benak: dialog Aamir Khan, si tokoh PK, dengan Tapasvi Maharaj. Berkali-kali PK menyebut “salah sambung” untuk menandai umat yang demen menghitung pahala. Yang begitu menghormati orang kaya, dan mengabaikan yang miskin.

Sutradara Rajkumar Hirani—melalui tokoh Tapasvi Maharaj, lelaki bertubuh tambun itu—seolah menyindir kita: suka menampik tuduhan PK. Malah berlagak seperti Tapasvi, yang mengkhayalkan diri sebagai pelindung Tuhan.

“Kau bisa melindungi Tuhan?” tanya Amir Khan, si PK. Pertanyaan kepada yang lagi dimabuk arogansi, dan kebodohan. Dan barangkali itulah kita: yang terobsesi untuk mendominasi orang lain. Yang berkonspirasi selaku sang Pencipta. Atau paling tidak merasa diri sebagai tentara Tuhan, yang berwenang menentukan satu-satunya kebenaran, dan yang lain salah. Penentu tafsir tunggal. Penentu terjemah tunggal. Sedang yang lain tak berhak. Lantas Amir Khan menutup pesan: “Kita ini sangat kecil. Berhentilah berpura-pura membela Tuhan! Atau akan selalu salah sambung!”

Kenapa salah sambung? Tak lain karena salah memahami kenyataan. Padahal, apa yang disebut 'kenyataan' adalah medan tempat Yang Maha Nyata menyatakan diri. Ia menyatakan Diri dalam rangka memberikan pelayanan, pengembangan dan perlindungan kepada makhluk-Nya.

Sekali lagi Sachiko Murata telah memapar secara apik perihal medan pernyataan Tuhan itu. Ia menjelaskan bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya. Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk yang menghuni jagad raya ini adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada kehendak-Nya. Sementara, keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Tuhan mencipta manusia dalam citra-Nya, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusialah yang sanggup menjadi wakil (khalifah) Allah di muka bumi.

Peran khusus bin unik sebagai wakil Allah, tertuntut tanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkung sekitarnya. Seseorang mesti bertindak sebagaimana Allah bertindak. Sungguh berat. Dan, belum tentu kita lulus mengemban amanah itu. Peran wakil ini dalam bahasa agama disebut takwa, yaitu kesediaan mengambil tugas Tuhan di muka bumi. Sehingga pantaslah, sekira tinggi rendah kualitas seseorang dilihat dari ketakwaan (Al-Hujurat [49]: 13).

Namun demikian, bukan berarti peran penghambaan tak bernilai. Penghambaan dan kekhalifahan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Penghambaan mempunyai keutamaan tertentu atas kekhalifahan, sebagaimana halnya Akal memiliki keutamaan tertentu atas Pena. Pena baru bisa digunakan untuk menulis jika Akal beroleh anugerah dari-Nya. Begitu pula, manusia baru bisa menjadi wakil-Nya yang benar bila ia telah memasrahkan diri pada kehendak Tuhan.

Syahdan, penghambaan berakar pada ketakterbandingan Ilahi, kenyataan bahwa kita bukan apa-apa di hadapan Tuhan. Keterwakilan berakar pada keserupaan Ilahi, kenyataan bahwa kita bisa memanifestasikan sifat-sifat Tuhan, untuk memberadabkan bumi.

Saya kira jelas bahwa prinsip hamba dan wakil Tuhan, melekat dan terbawa sejak kita hadir ke muka bumi ini. Tentu saja kita bisa menafikannya. Kita sah-sah saja tak menyadarinya. Kita tidak ambil pusing, entah sebagai hamba Tuhan yang mesti taat, pasrah pada kehendak-Nya, maupun fungsi wakil Tuhan, yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup diri sendiri dan lingkungan. Kita bisa saja meninggalkan keduanya, dan sontak derajat atau martabat kita dengan sendirinya melorot jatuh setara dengan hewan-hewan, bahkan lebih rendah lagi. Sebagai contoh, seseorang yang tak bisa mengendalikan diri dari hasrat terhadap lawan jenis dan nekat melakukannya akan disebut kumpul kebo.

Martabat kita itu terkait dengan kesungguhan berhamba dan sekaligus mengemban amanah berdarma bakti kepada kehidupan. Berhamba merupakan wujud iman, sebagai respon akal yang menggerakkan jiwa untuk kembali ke pelabuhan sejati. Sedang mengemban amanah sebagai wakil merupakan makna lain dari ihsan, yaitu merespon ciptaan-Nya. Berbuat bajik, beramal saleh, dan memberikan kemanfaatan terhadap pihak lain. Hal ini tertera jelas dalam surah At-Tiin [95]: 4-6, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan (ihsan).”

Alhasil, manusia adalah makhluk ganda: selaku hamba sekaligus wakil Tuhan. Yang lantas saya pahami sebagai Wajah Ilahi, “Ke mana pun kamu berpaling dan menghadap, di situ wajah Allah” (Al-Baqarah: 115). Bahwa “Aku tak mencipta jin dan manusia kecuali agar mereka menghamba kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56), dan bahwa “Aku menjadikan (manusia) wakil-Ku di bumi” (Al-Baqarah: 30).

Baca juga: Menyaksikan Wajah-Nya

Post a Comment

0 Comments