Kewajiban Shalat

Sirah Nabawiyah

Sirah Nabi (2)

Ibnu Hisyam menuturkan, “Ketika untuk pertama kalinya shalat diwajibkan kepada Rasulullah Saw., Malaikat Jibrl datang kepada beliau yang saat itu tengah berada di atas gunung Makkah.

Malaikat Jibril memberi isyarat kepada Rasululah Saw. dengan tumitnya di lembah dan dari lembah tersebut memancarlah mata air. Kemudian Malaikat Jibril berwudhu untuk memperlihatkan kepada beliau cara bersuci untuk shalat. Rasulullah pun berwudhu seperti Malaikat Jibril berwudhu.

Kemudian Malaikat Jibril berdiri dan shalat, dan Rasulullah Saw. shalat seperti shalatnya Jibril. Setelah itu, Malaikat Jibril berpaling dari hadapan Rasulullah Saw.”

Terus berapa rakaat Rasulullah Saw. menjalankan shalat? Samakah dengan jumlah yang kini kita lakukan? 

Ibnu Hisyam mengutip penuturan Aisyah, “Untuk pertama kalinya, shalat diwajibkan kepada Rasulullah Saw. dua rakaat untuk setiap shalat. Kemudian Allah Ta’ala menyempurnakannya dengan menjadikan shalat itu empat rakaat bagi orang mukmin dan menetapkannya seperti sejak awal (dua rakaat) bagi musafir.”

Usai menerima tuntunan shalat, Rasulullah Saw. memperlihatkan kepada Khadijah cara bersuci dan shalat sebagaimana diperlihatkan Jibril. Khadijah pun berwudhu seperti Rasulullah Saw. Khadijah pun menegakkan shalat seperti shalat beliau.

Diriwayatkan oleh Malik, dituturkan ulang Ibnu Ishaq dan ditulis oleh Ibnu Hisyam, “Ketika shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau didatangi Malaikat Jibril. Kemudian Jibril mengerjakan shalat Dhuhur dengan beliau ketika matahari mulai condong ke barat. Kemudian mereka mengerjakan shalat Ashar saat bayangan benda sama persis dengan bendanya. 

Kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Magrib dengan beliau ketika matahari telah terbenam. Lanjut shalat Isya’ ketika sinar merah matahari setelah terbenam telah hilang. Kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Subuh dengan beliau ketika fajar menyingsing. 

Esoknya, Malaikat Jibril datang lagi kepada beliau lalu mengerjakan shalat Dhuhur dengan beliau ketika bayangan persis seperti dirinya, berikut mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan seseorang dua kali lebih panjang. 

Kemudian Malaikat Jibril mengerjakan shalat Magrib bersama beliau ketika matahari telah terbenam sama seperti kemarin. Mengerjakan shalat Isya’ setelah sepertiga malam pertama berlalu, kemudian mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar belum menyingsing. 

Setelah itu, Malaikat Jibril berkata, “Hai Muhammad, waktu shalat adalah pertengahan di antara shalatmu hari ini dan shalatmu kemarin.”

Nah, kemudian, selain kepada Khadijah, Rasulullah Saw. juga mengajarkan shalat kepada Ali bin Abu Thalib. Ali adalah anak Abu Thalib yang dipungut dan tinggal bersama Nabi Saw. hingga beliau diutus Allah sebagai Nabi-Nya. Ali mengikuti beliau, beriman dan membenarkan beliau. Termasuk menegakkan shalat.

Jika waktu shalat telah tiba, Rasulullah Saw. pergi ke syi’b (jalan di antara dua bukit) bersama Ali dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayah Ali, Abu Thalib, paman-paman beliau, dan kaumnya. Rasulullah Saw. dan Ali mengerjakan shalat-shalat di Syi’b tersebut.

Suatu hari Abu Thalib ke syi’b dan mendapati mereka berdua sedang shalat. Abu Thalib bertanya, “Wahai keponakanku, agama apa yang engkau anut?”

“Allah telah mengutusku sebagai rasul kepada hamba-hamba-Nya.” jawab Nabi Saw. “Dan engkau, wahai Pamanku, adalah orang yang paling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada petunjuk. Engkau orang yang paling layak merespon dakwahku dan menyokongku.”

Abu Thalib menyahut, “Wahai keponakanku, sungguh aku tidak dapat meninggalkan agama nenek moyangku dan apa yang biasa mereka kerjakan. Namun, demi Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menimpakan kejahatan kepadamu, selagi aku masih hidup.”

Dalam suatu kesempatan, Abu Thalib juga mengonfirmasi hal yang sama kepada Ali, anaknya. “Anakku, agama apa yang sesungguhnya engkau anut?”

“Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” jawab Ali. “Aku membenarkan apa yang Rasul Saw. bawa. Aku shalat bersama beliau, dan mengikuti beliau.”

“Jika memang ia mengajakmu kepada kebaikan, maka ikutilah dia!” tandas sang Ayah, Abu Thalib. 

Selain Ali bin Abu Thalib, laki-laki kedua yang masuk Islam dan turut mengerjakan shalat adalah Zaid bin Haritsah. Zaid adalah anak Haritsah, dan menjadi budak Hakim bin Hizam. Suatu kali Khadijah, istri Nabi Saw. bertandang ke rumah Hakim. Hakim menawarkan budak-budaknya. Dan Khadijah memilih Zaid. Oleh Khadijah, Zaid dihadiahkan kepada Rasulullah Saw, kemudian beliau memerdekakan Zaid dan mengadopsinya. 

Haritsah sedih dan kangen kepada Zaid. Ia menemui Zaid di rumah Rasulullah Saw. Kemudian, sang Nabi memberikan pilihan kepada Zaid, “Engkau bebas, silakan pulang bersama ayahmu, atau tetap tinggal bersamaku. Engkau bebas menentukan.”

“Aku lebih suka tinggal bersamamu, Duhai Nabi.” jawab Zaid. 

Begitulah, Zaid pun tinggal bersama Nabi Saw, sebagaimana Ali bin Abu Thalib, hingga Muhammad Saw. diangkat sebagai Nabi. Zaid bin Haritsah menjadi laki-laki kedua, setelah Ali, yang turut mengimani dan membenarkan Nabi Muhammad Saw. Zaid turut shalat bersama beliau.   

Ungaran, 26/11/2021

Baca juga: Sirah 1           

Post a Comment

0 Comments